Studi Kasus Elang

Studi Kasus: Bagaimana Sistem Presensi Digital Dapat Dibuat dengan Cara Berpikir Komputasional


Latar Belakang Studi Kasus

Di lingkungan Sekolah Menengah Atas (SMA), proses absensi harian merupakan bagian penting dalam kegiatan pembelajaran. Kehadiran siswa tidak hanya menjadi indikator kedisiplinan, tetapi juga menjadi dasar dalam evaluasi pembelajaran dan pelaporan akademik. Namun, dalam praktiknya, proses absensi seringkali menghadapi berbagai kendala yang menyulitkan guru maupun siswa.


permasalahan umum yang sering terjadi di lapangan antara lain:


  • Siswa lupa untuk mengisi daftar hadir, terutama jika dilakukan secara manual atau tanpa pengawasan langsung. Hal ini dapat menyebabkan ketidaksesuaian data yang berujung pada kesalahan dalam pencatatan kehadiran.
  • Data absensi tidak langsung ter-rekap secara otomatis, sehingga butuh waktu tambahan untuk mengolah dan menyusunnya. Guru harus merekap secara manual sebelum digunakan untuk laporan kehadiran harian, mingguan, atau bulanan.



Melihat tantangan tersebut, diperlukan suatu solusi yang dapat mengotomatisasi proses absensi, mengurangi beban administrasi guru, serta meningkatkan akurasi dan efisiensi pencatatan kehadiran siswa. Oleh karena itu, dibuatlah sebuah sistem presensi digital sederhana yang memanfaatkan Google Form sebagai alat input kehadiran, dan Google Sheets sebagai media penyimpanan dan pengolahan data secara otomatis.


Dalam pengembangan solusi ini, pendekatan Computational Thinking digunakan untuk menyusun langkah-langkah penyelesaian masalah secara sistematis dan efisien. Pendekatan ini mencakup tahapan-tahapan seperti:

.



Penerapan 4 Pilar Computational Thinking




 1. Dekomposisi (Decomposition)



Masalah Utama: Proses absensi manual memakan waktu dan kurang efisien.


Untuk memahami akar masalah secara menyeluruh, berikut adalah pecahan-pecahan masalah yang lebih spesifik:





Proses pengisian absensi oleh siswa tidak terstruktur.



Siswa sering lupa atau terlambat mengisi absensi karena tidak ada sistem yang konsisten dan mudah diakses setiap hari.






Pencatatan kehadiran masih dilakukan secara manual.



Guru harus mencatat nama siswa satu per satu, yang menyita waktu pembelajaran dan berisiko menimbulkan kesalahan pencatatan.





Data kehadiran tidak langsung tersedia dalam bentuk rekap.



Setelah absensi dicatat, guru masih perlu mengolah ulang data untuk melihat siapa yang hadir atau absen dalam periode tertentu.





 2.  Pengenalan Pola (Pattern Recognition)



Setelah mengamati beberapa minggu, guru menemukan pola:


  • Presensi selalu dilakukan pagi hari.
  • Isian yang sama tiap hari: nama, kelas, tanggal, kehadiran.
  • Banyak siswa yang lupa absen tapi tetap hadir.



Dari pola itu, tim memutuskan menambahkan fitur notifikasi WhatsApp setiap pagi.





 3.  Abstraksi (Abstraction)



Guru tidak perlu tahu cara kerja detail Google Sheets, yang penting:


  • Input: Formulir diisi siswa.
  • Proses: Data otomatis masuk ke spreadsheet.
  • Output: Rekap absen siap dilihat dalam bentuk grafik/tabel.



Abstraksi menyederhanakan sistem agar lebih mudah digunakan siapa pun.





4. Algoritma



Tim menyusun langkah-langkah sistem absensi digital:


  1. Buat Google Form dengan kolom: Nama, Kelas, Tanggal, Kehadiran.
  2. Aktifkan pengumpulan data otomatis ke Google Sheets.
  3. Gunakan add-on (misalnya Google Apps Script) untuk membuat laporan harian.
  4. Kirim link presensi setiap pagi pukul 07.00 melalui grup WA kelas.
  5. Guru cek rekap otomatis setiap minggu.






✅  Refleksi dan Hasil yang dicapai:

 


  • Proses absensi jadi hanya 10 detik per siswa.
  • Tidak perlu lagi menghitung kehadiran manual.
  • Guru lebih mudah melihat siapa yang sering absen.
  • Siswa jadi terbiasa disiplin isi presensi sebelum jam pelajaran


Umpan Balik

Semoga absen menjadi lebih mudah dengan cara otomatis seperti di blog ini

Comments

Post a Comment